NASIONAL - Kabar duka menyelimuti tanah air pada Senin pagi, 2 Maret 2026, ketika mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, Try Sutrisno, mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Ia meninggal pada pukul 06.58 WIB dalam usia 90 tahun, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah militer dan politik bangsa.

Ia bukan hanya mantan wakil presiden, tetapi simbol dari suatu generasi militer yang merasakan, menjalani, bahkan membentuk perjalanan Indonesia pascakolonial, dari pergulatan revolusi sampai pergolakan politik di panggung nasional. 

Try lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda dan arus nasionalisme sedang bergolak di seantero nusantara. Bermula dari masa kanak-kanak yang penuh tantangan, ia kemudian memilih jalan militer sebagai panggilan hidupnya. Masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan lulus pada tahun 1959, ia menjadi perwira muda yang kemudian mengabdi dalam berbagai medan tugas. 

Pengalaman awalnya sebagai taruna dan perwira muda mempertemukannya dengan realita sejarah Indonesia yang bergejolak. Dalam salah satu kisah yang direkam dalam catatan sejarah, para taruna seperti Try merasakan langsung dinamika pertempuran dan operasi militer di Sumatra pada akhir 1950-an. Sebuah pengalaman yang menurutnya sangat berharga dalam memahami kepemimpinan dan kehidupan prajurit. 

Karier Try terus menanjak. Ia pernah memegang komando di berbagai daerah. Dari Kodam XVI/Udayana hingga Kodam IV/Sriwijaya, dan akhirnya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) serta Panglima ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) pada akhir 1980-an. ABRI adalah nama institusi sebelum kini dikenal sebagai TNI. Posisi Panglima ABRI pada masa itu bukan sekadar jabatan biasa, karena berada di pusat struktur kekuasaan Orde Baru di mana militer memegang peran penting dalam kehidupan sosial dan politik nasional. 

Era Orde Baru sering kali diperbincangkan dengan dinamikanya yang kompleks: stabilitas dan pembangunan di satu sisi, dan pembatasan ruang kebebasan di sisi lain. Di dalam konteks ini, figur Try Sutrisno sering dipandang sebagai militer yang tegas namun bersikap rendah hati,  seorang pemimpin yang bergaul dengan prajuritnya, tetapi juga memahami nuansa kehidupan sipil yang lebih luas.

Puncak karier politiknya datang ketika ia terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 pada tahun 1993, mendampingi Presiden Soeharto selama periode kritis menuju reformasi. Namun, proses pencalonan Try sendiri pernah menjadi momen politik penting. Ia dinominasikan oleh ABRI sebelum presiden menyampaikan pilihannya, menunjukkan dinamika internal yang tidak sederhana dalam rezim yang sangat mengutamakan kontrol presiden.

Masa jabatan Try bertepatan dengan tahun-tahun krusial sebelum Krisis Moneter Asia 1997–1998 dan gelombang tuntutan reformasi yang mengguncang fondasi Orde Baru. Ia menjadi saksi utama saat struktur kekuasaan yang selama itu terbangun mulai retak. Ketika gelombang protes dan tekanan publik semakin keras, Try bersama sejumlah tokoh senior mencoba berdiskusi dengan Presiden Soeharto tentang berbagai kemungkinan menghadapi krisis, sebelum akhirnya rezim itu runtuh pada tahun 1998. 

Di luar panggung politik formal, Try juga dikenal berperan dalam dunia olahraga dan budaya populer. Ia pernah menjabat Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), berkontribusi pada era emas bulutangkis Indonesia yang menghasilkan banyak prestasi global seperti ajang Olimpiade Barcelona tahun 1992. Hal tersebut memperlihatkan sisi lain dari sosok sederhana yang luas minat dan pengaruhnya. 

Namun lebih dari sekadar gelar dan jabatan, yang selalu diingat banyak orang adalah bagaimana Try berdiri sebagai figur yang relatif bersahaja dan dekat dengan orang-orang di sekitarnya: sesama perwira, pelajar, atlet, maupun masyarakat umum. Di kemudian hari, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan diskusi kebangsaan hingga usia lanjut, menunjukkan semangat pengabdian yang tak padam meski masa resmi jabatannya telah berakhir. 

Kepergian Try Sutrisno pada usia 90 tahun bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan sahabatnya, tetapi juga momen refleksi bagi bangsa Indonesia tentang perjalanan sejarah panjang yang kadang rumit namun sarat pelajaran. Ia menjadi bagian dari rentetan tokoh yang mewarnai babak penting negara. Dari perjuangan awal kemerdekaan, struktur politik Orde Baru, sampai arah reformasi yang terus bergulir hingga hari ini. 

Di tengah perdebatan sejarah yang kompleks, figur Try akan tetap dikenang bukan semata sebagai pejabat tinggi, melainkan sebagai pribadi yang hidup di setiap denyut perubahan besar bangsa ini, dengan segala kontroversi, tantangan, dan kontribusinya. Selamat jalan, Pak Try. Sejarah Indonesia akan terus membacamu sebagai bagian dari kisah perjuangan bangsa.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM