SUARA NGAWI - Di era media sosial, guru masa kini menghadapi tantangan yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga tampil menarik, aktif di dunia digital, dekat dengan tren, bahkan kadang harus memahami “selera algoritma”. Di satu sisi, hal tersebut tampak modern dan relevan dengan zaman. Namun di sisi lain, muncul kegelisahan yang semakin nyata. Jangan-jangan pendidikan kita perlahan berubah menjadi sekadar tontonan.

Ironinya memang terasa. Akses terhadap pengetahuan saat ini jauh lebih mudah dibandingkan dua dekade lalu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terdapat 66,48 persen penduduk Indonesia yang sudah mengakses internet. Artinya, jutaan siswa kini membawa “perpustakaan berjalan” di genggaman tangan mereka. 

Tetapi kemudahan akses ternyata tidak otomatis melahirkan budaya belajar yang lebih baik. Di tengah banjir informasi itu, kemampuan membaca yang mendalam dan berpikir kritis terasa semakin rapuh. Hal ini terlihat dari hasil PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022 yang menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia kembali menurun.

PISA sendiri merupakan program penilaian pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh OECD, organisasi kerja sama internasional yang banyak menjadi rujukan kebijakan pendidikan dunia. Berbeda dengan ujian sekolah biasa yang cenderung mengukur hafalan, PISA menguji kemampuan siswa usia 15 tahun dalam memahami bacaan, memecahkan persoalan matematika, dan bernalar dalam sains untuk situasi kehidupan nyata. 

Hasilnya cukup meyakinkan. Skor literasi membaca Indonesia dalam PISA tahun 2022 turun menjadi 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD. Bahkan menjadi yang terendah sejak Indonesia ikut PISA pada tahun 2000. Ini menunjukkan banyak siswa mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami maknanya secara mendalam. Mereka dapat menemukan informasi di internet dengan cepat, tetapi kesulitan mengolahnya menjadi pengetahuan yang utuh.

Fenomena itu mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pelajar yang cepat mengetahui tren TikTok terbaru, tetapi kesulitan memahami bacaan panjang. Mereka hafal potongan video beberapa detik, tetapi kesulitan bertahan membaca lima halaman buku. Dunia digital menciptakan budaya serba cepat: cepat melihat, cepat bereaksi, cepat bosan. Akibatnya, proses belajar yang membutuhkan ketekunan terasa tidak menarik lagi.

Masalahnya, budaya serba cepat itu juga mulai menerpa guru. Tidak sedikit guru yang merasa harus tampil “kekinian” terus-menerus agar dianggap dekat dengan murid. Ada yang sibuk membuat konten hiburan, ada yang lebih memikirkan keterlibatan dibandingkan substansi pelajaran. Ukurannya perlahan bergeser. Bukan lagi seberapa banyak siswa memahami materi, tetapi seberapa banyak video di media sosial.

Padahal pendidikan tidak pernah dibangun atas logika viralitas. Pengetahuan membutuhkan proses yang lambat: membaca, merenung, berpikir, lalu memahami. Sesuatu yang bertolak belakang dengan budaya media sosial yang serba instan.

Bahkan dalam laporan PISA tahun 2022 menunjukkan sekitar 25 persen siswa di Indonesia mengaku terganggu penggunaan perangkat digital saat belajar. Artinya, ruang kelas hari ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga arena perebutan perhatian antara guru dan layar ponsel.

Saat ini tantangan guru menjadi jauh lebih berat dibandingkan masa lalu. Guru sekarang bukan hanya mengajar matematika, sejarah, atau bahasa Indonesia. Mereka juga harus bersaing dengan notifikasi, FYP, game online, dan arus hiburan tanpa ujung. Dalam situasi seperti itu, tidak heran jika sebagian guru akhirnya merasa harus ikut bermain dalam logika media sosial.

Namun ada garis yang seharusnya tidak hilang. Guru boleh berkreasi, boleh memanfaatkan TikTok, Instagram, atau YouTube sebagai media pembelajaran, tetapi jangan sampai kehilangan identitas utamanya sebagai penjaga pengetahuan. Sebab guru bukan sekadar pencipta konten.

Kita tentu tidak perlu anti teknologi. Banyak guru muda yang berhasil membuat pembelajaran yang lebih hidup melalui media digital. Ada guru sejarah yang membuat video singkat tentang kerajaan Nusantara, ada guru matematika yang menjelaskan rumus dengan sederhana, ada pula guru bahasa yang memperkenalkan sastra lewat konten kreatif. Teknologi bisa menjadi jembatan yang luar biasa jika dipakai sebagai alat, bukan tujuan.

Masalah muncul ketika pendidikan mulai tunduk pada pencitraan budaya. Ketika guru lebih takut kehilangan pengikut (pengikut di media sosial) dibandingkan kehilangan kualitas intelektual. Ketika sekolah lebih sibuk mengejar kesan modern daripada membangun tradisi berpikir.

Padahal bangsa yang kuat tidak dibangun oleh generasi yang sekadar cepat bereaksi, tetapi oleh generasi yang mampu berpikir secara mendalam. Dan kemampuan itu lahir dari budaya membaca, berdiskusi, serta menghargai pengetahuan, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh video beberapa detik.

Intinya, sekolah seharusnya tetap menjadi ruang untuk menumbuhkan akal sehat di dunia tengah yang makin bising. Guru boleh mengikuti zaman, tetapi tidak harus larut dalam budaya tren. Sebab ketika pendidikan terlalu sibuk mengejar viralitas, yang hilang bukan hanya konsentrasi belajar, melainkan juga makna pendidikan itu sendiri.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.