SUARA NGAWI - Di era media sosial, peristiwa kecil bisa berubah menjadi persoalan besar dalam waktu yang sangat singkat. Film Budi Pekerti menggambarkan fenomena itu secara erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, film ini mengambil latar Yogyakarta dan menceritakan kisah sederhana yang tiba-tiba menjadi rumit gara-gara sebuah video viral.
Tokoh utamanya adalah Bu Prani, seorang guru bimbingan konseling di sebuah sekolah swasta. Ia dikenal sebagai guru yang tegas tetapi peduli pada murid-muridnya. Dalam pekerjaannya, Bu Prani sering mengingatkan pentingnya etika, sopan santun, dan pengendalian diri. Nilai yang dalam tradisi pendidikan Indonesia sering disebut sebagai budi pekerti.
Di rumah, kehidupannya tidak selalu mudah. Suaminya sedang menghadapi gangguan kesehatan mental sehingga membutuhkan perhatian khusus. Sementara itu, dua anaknya sudah beranjak dewasa dan sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Seperti banyak keluarga kelas menengah lain, mereka hidup dengan berbagai tantangan ekonomi dan emosional.
Masalah bermula dari peristiwa yang sebenarnya sangat sederhana. Suatu hari Bu Prani sedang mengantre membeli makanan di pasar. Setelah menunggu cukup lama, seseorang tiba-tiba menyerobot antrean. Bu Prani menegurnya dengan nada kesal. Perdebatan singkat itu direkam oleh orang lain menggunakan telepon genggam.
Video singkat tersebut kemudian diunggah ke media sosial. Tanpa penjelasan lengkap tentang apa yang sebenarnya terjadi, potongan video itu tersebar luas. Dalam waktu singkat, banyak warganet menilai Bu Prani bersikap kasar dan tidak pantas menjadi seorang guru.
Sejak saat itu kehidupan Bu Prani berubah. Video viral tersebut tidak hanya menjadi bahan komentar di internet, tetapi juga memengaruhi kehidupan nyata. Reputasinya sebagai guru mulai dipertanyakan. Murid-murid membicarakannya. Sekolah tempat ia bekerja harus mempertimbangkan dampak reputasi yang muncul.
Keluarganya pun ikut terkena imbas. Anak-anaknya menghadapi komentar pedas di media sosial. Suaminya yang sedang rentan secara psikologis ikut merasakan tekanan dari situasi tersebut. Peristiwa kecil yang seharusnya bisa selesai dalam waktu beberapa menit justru berubah menjadi tekanan sosial yang berkepanjangan.
Fenomena seperti ini sebenarnya tidak asing di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang tiba-tiba menjadi terkenal atau justru diserang publik karena sebuah video pendek di internet. Media sosial membuat informasi menyebar dengan sangat cepat, tetapi sering kali tanpa konteks yang utuh.
Dari sudut pandang hukum, persoalan seperti ini menjadi semakin kompleks. Indonesia memiliki aturan mengenai aktivitas digital melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE. Namun dalam praktiknya, kerusakan reputasi sering terjadi jauh lebih cepat daripada proses hukum atau klarifikasi.
Dalam ilmu hukum dikenal istilah trial by public opinion atau pengadilan oleh opini publik. Artinya, seseorang sudah dianggap bersalah oleh masyarakat sebelum ada proses penjelasan yang lengkap. Media sosial memperkuat kecenderungan ini karena siapa pun dapat memberikan penilaian hanya berdasarkan potongan informasi.
Film ini juga mengingatkan kita pada nilai budaya yang sering diajarkan sejak lama. Konsep “budi pekerti” dalam pendidikan Indonesia sebenarnya mengajarkan empati, kesabaran, dan kemampuan memahami orang lain. Nilai-nilai itu sudah lama diajarkan di sekolah maupun dalam kehidupan keluarga.
Namun di ruang digital, nilai tersebut sering kali terasa semakin jauh. Kolom komentar di media sosial kerap dipenuhi kata-kata keras yang mungkin tidak akan diucapkan jika orang berhadapan langsung.
Dari sisi sejarah sosial, perubahan ini juga menunjukkan bagaimana teknologi mengubah cara masyarakat membentuk reputasi. Dahulu seseorang dikenal melalui lingkungan sosial yang terbatas, seperti tetangga, tempat kerja, atau komunitasnya. Sekarang, satu video dapat dilihat oleh jutaan orang yang sama sekali tidak mengenalnya.
Di sinilah kekuatan film Budi Pekerti. Ia tidak hanya menceritakan tentang viralnya sebuah video, tetapi juga tentang dampaknya bagi kehidupan manusia yang nyata. Film ini mengajak penonton melihat bahwa di balik setiap video yang beredar di media sosial selalu ada cerita yang jauh lebih panjang.
Kisah Bu Prani menjadi pengingat bagi kita semua. Di tengah derasnya arus informasi dan komentar di internet, seharusnya kita perlu lebih berhati-hati sebelum menilai orang lain. Sebab sering kali, apa yang kita lihat di layar hanyalah sepotong kecil dari cerita yang sebenarnya.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM
Belum ada komentar.