SUARA NGAWI - Pada 6 Januari 2010, Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi sebuah peristiwa yang ganjil sekaligus menyedihkan. Saat tim nasional sepak bola Indonesia tertinggal dan tampil buruk dalam lanjutan Kualifikasi Piala Asia 2011 melawan Oman, seorang pemuda bernama Hendri Mulyadi tiba-tiba memanjat pagar, menerobos petugas keamanan, lalu berlari masuk ke lapangan.

Ia menggiring bola, menuju gawang Oman, dan melepaskan tendangan ke arah kiper lawan. Tendangan itu pelan. Terlalu pelan. Kiper Oman, Ali Al-Habsi, menangkap bola dengan mudah sambil tersenyum. Penonton tertawa. Aparat keamanan bergerak cepat. Hendri kemudian diamankan.

Banyak orang menganggap peristiwa itu sekadar aksi nekat seorang suporter yang frustrasi. Namun jika dilihat lebih dalam, tindakan Hendri sesungguhnya adalah simbol dari kondisi sepak bola Indonesia saat itu: penuh kekecewaan, kehilangan arah, dan jauh dari harapan publik.

Enam belas tahun kemudian, sejarah menghadirkan kisah yang menarik. Indonesia kembali bertemu Oman. Kali ini dalam FIFA Matchday Juni 2026. Indonesia menang meyakinkan 3-0. Salah satu sorotan pertandingan adalah penampilan penjaga gawang naturalisasi, Emil Audero Mulyadi. Nama belakangnya sama: Mulyadi.

Tentu saja tidak ada hubungan antara Hendri Mulyadi dan Emil Audero Mulyadi. Namun kebetulan itu terasa seperti metafora yang indah. Jika pada tahun 2010 nama Mulyadi muncul sebagai simbol frustrasi suporter terhadap keterpurukan sepak bola Indonesia, pada tahun 2026 nama Mulyadi hadir sebagai simbol kemajuan dan optimisme.

Perjalanan dari Hendri menuju Emil bukan sekadar perjalanan waktu selama enam belas tahun. Ia adalah perjalanan sebuah bangsa penyuka sepak bola yang berusaha keluar dari lingkaran masalahnya sendiri.

Kita sering terjebak melihat keberhasilan hanya dari hasil akhir. Ketika Indonesia menang besar, ketika peringkat FIFA naik, ketika stadion penuh oleh lautan merah-putih, kita cenderung fokus pada euforia. Padahal yang lebih menarik justru proses panjang yang terjadi di belakangnya.

Pada tahun 2010, Indonesia masih berkutat dengan berbagai persoalan klasik. Kompetisi domestik tidak stabil. Pembinaan usia muda belum terstruktur. Konflik organisasi sepak bola sering lebih ramai dibanding prestasi di lapangan. Harapan publik selalu besar, tetapi fondasi yang menopangnya rapuh. Tidak mengherankan jika frustrasi mudah sekali muncul.

Dalam konteks itu, aksi Hendri Mulyadi sebenarnya dapat dibaca sebagai ekspresi simbolik dari perasaan banyak suporter. Ia melakukan sesuatu yang tidak masuk akal karena situasi yang dihadapinya juga terasa tidak masuk akal. Ketika tim terus kalah, ketika perubahan tak kunjung datang, sebagian orang memilih melampiaskan kekecewaan dengan cara yang ekstrem.

Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar tidak terjadi secara instan. Kemajuan Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bukan hasil satu pertandingan atau satu kemenangan. Ia lahir dari akumulasi banyak faktor. Ada pembinaan yang mulai membaik, meningkatnya profesionalisme kompetisi, keberanian melakukan reformasi, masuknya pemain diaspora, serta hadirnya standar yang lebih tinggi dalam pengelolaan tim nasional. Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun arah perjalanannya mulai terlihat.

Dalam ilmu organisasi, ada istilah yang menarik: lag effect. Hasil sering muncul jauh setelah proses dimulai. Pohon tidak langsung berbuah ketika ditanam. Demikian pula dengan sepak bola. Upaya yang dilakukan hari ini mungkin baru terlihat dampaknya bertahun-tahun kemudian.

Karena itu, kemenangan Indonesia atas Oman pada tahun 2026 ini sesungguhnya bukan hanya tentang skor 3-0. Kemenangan itu adalah cerminan dari proses panjang yang berlangsung selama bertahun-tahun. Di sinilah kisah Hendri dan Emil menjadi relevan, bahkan di luar sepak bola.

Dalam birokrasi, pendidikan, organisasi, maupun pembangunan daerah, kita sering berada di antara dua fase. Ada fase ketika masalah terasa lebih besar daripada harapan, dan fase ketika hasil perubahan mulai tampak. Tantangannya adalah tetap bekerja dengan sabar selama menempuh jarak di antara keduanya.

Hendri Mulyadi mungkin tidak pernah membayangkan bahwa enam belas tahun setelah aksinya yang terkenal itu, Indonesia akan kembali menghadapi Oman dalam suasana yang sangat berbeda. Ia mungkin juga tidak pernah membayangkan bahwa nama “Mulyadi” akan kembali menjadi perbincangan, kali ini bukan karena protes dan kekecewaan, melainkan karena kemenangan.

Sebenarnya, kisah ini bukan sekadar tentang sepak bola. Ia adalah pengingat bahwa harapan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita duga. Kadang ia muncul setelah perjalanan panjang, melewati kegagalan, kritik, dan berbagai kekecewaan.

Dan ketika hari itu tiba, kita menyadari bahwa kemajuan bukanlah keajaiban yang muncul dalam semalam. Ia adalah hasil dari kesabaran untuk terus berjalan, bahkan ketika banyak orang sudah berhenti percaya.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.