SUARA NGAWI - Maret 2026 publik dunia diguncang kabar dari Meksiko. Di sebuah lokasi yang diduga menjadi pusat pembantaian kartel narkoba di Jalisco, ditemukan ratusan pasang sepatu tak bertuan. Sepatu anak-anak, sandal perempuan, sepatu olahraga, hingga sepatu kerja tergeletak begitu saja di antara reruntuhan dan sisa tulang-belulang manusia. Foto-fotonya menyebar cepat di media internasional. Sulit melihatnya tanpa membayangkan orang-orang yang pernah memakai sepatu itu. Mereka yang pergi entah ke mana dan mungkin tak pernah pulang.

Aneh juga kalau dipikir-pikir: benda sesederhana sepatu bisa menyimpan begitu banyak cerita tentang manusia. Lalu, bagaimana sejarah sepatu itu sendiri?

Manusia Eurasia diperkirakan sudah mengenal alas kaki sejak puluhan ribu tahun lalu. Awalnya tentu sangat sederhana, hanya kulit binatang untuk melindungi kaki dari cuaca dan medan berat. Tetapi lama-kelamaan, sepatu berkembang bukan cuma sebagai kebutuhan praktis. Ia ikut membawa identitas sosial pemakainya.

Di Mesir Kuno misalnya, alas kaki menjadi penanda kelas sosial. Kaum bangsawan memakai sandal berbeda dari rakyat biasa. Pada masa berikutnya, sepatu bahkan menjadi barang mahal yang tidak semua orang mampu membeli. Sebelum Revolusi Industri, orang bisa memakai satu sepatu selama bertahun-tahun. Rusak sedikit dijahit. Sol lepas diperbaiki lagi. Tidak heran kalau dulu ada profesi tukang sol sepatu yang begitu penting di kota-kota kecil.

Generasi Indonesia tahun 1980-an atau 1990-an mungkin masih ingat suara ketukan palu tukang sol sepatu di pinggir pasar. Bau lem, potongan karet hitam, dan sepatu sekolah yang dijahit ulang supaya bisa bertahan sampai kenaikan kelas berikutnya. Pada masa itu, membeli sepatu baru bukan keputusan kecil bagi banyak keluarga.

Sejarah juga menunjukkan bahwa model sepatu lahir dari kebutuhan sosial yang berbeda-beda. Boots berasal dari dunia militer. Sneakers awalnya hanya untuk olahraga sebelum berubah menjadi simbol gaya hidup. Bahkan high heels dulu dipakai laki-laki bangsawan Eropa sebelum identik dengan perempuan modern. Artinya, sepatu memang tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu berkaitan dengan status, pekerjaan, bahkan gengsi manusia.

Karena itu, sepatu sering muncul dalam simbol politik. Dunia masih ingat peristiwa tahun 2008 ketika Presiden Amerika Serikat George W. Bush dilempar sepatu oleh jurnalis Irak, Muntadhar al-Zaidi, saat konferensi pers di Baghdad. Di budaya Timur Tengah, melempar sepatu dianggap penghinaan besar. Dan dalam hitungan detik, sepatu berubah menjadi simbol kemarahan terhadap perang dan kekuasaan.

Di Indonesia, sepatu punya makna yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari rakyat kecil. Itu terasa dalam Sepatu Dahlan, film yang diangkat dari kisah masa kecil Dahlan Iskan, Menteri BUMN era Presiden SBY. Dahlan kecil digambarkan berjalan tanpa alas kaki ke sekolah di sebuah desa miskin di Magetan. Mimpinya sederhana, yakni punya sepatu sendiri.

Film itu sebenarnya tidak menawarkan cerita yang rumit. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia memperlihatkan bagaimana anak kecil bisa merasa minder hanya karena telanjang kaki di sekolah. Sepatu menjadi lambang kepercayaan diri dan keinginan untuk dianggap setara dengan teman-temannya.

Yang menarik, pengalaman seperti itu sebenarnya tidak jauh dari kehidupan banyak orang Indonesia. Sampai hari ini masih ada keluarga yang membeli sepatu sekolah dengan menunggu gajian. Ada anak yang memakai sepatu warisan kakaknya. Ada pula yang diam-diam malu karena sepatu sekolahnya sudah menganga di bagian depan.

Karena itu, ketika muncul polemik anggaran pengadaan sepatu siswa Sekolah Rakyat sebesar sekitar Rp700 ribu per pasang di Kementerian Sosial, publik langsung bereaksi keras. Angka itu terasa terlalu jauh dari pengalaman sehari-hari masyarakat. Memang kemudian sang menteri menjelaskan bahwa nominal tersebut masih berupa pagu awal yang nantinya disesuaikan lewat mekanisme lelang terbuka. Sementara itu, sebuah brand sepatu lokal Stradenine, yang ikut terseret justru menyebut harga produk mereka rata-rata hanya sekitar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu.

Tetapi kegaduhan telanjur terjadi karena yang dipersoalkan publik sebenarnya bukan sekadar angka. Yang terasa mengganggu adalah kesan adanya jarak empati. Di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar ringan, masyarakat sulit menerima bayangan harga sepatu sekolah yang mendekati biaya hidup beberapa hari untuk satu keluarga.

Secara administratif, sepatu mungkin hanya rincian anggaran dengan spesifikasi tertentu. Ada hitungan bahan, distribusi, dan administrasi. Semua bisa dijelaskan secara teknis. Tetapi masyarakat melihatnya dengan cara berbeda. Mereka membandingkan angka itu dengan isi dompet mereka sendiri.

Mungkin karena itu sepatu tak pernah benar-benar cuma urusan alas kaki. Dari ratusan sepatu tak bertuan di Meksiko, sepatu lusuh Dahlan kecil, sampai polemik anggaran di Indonesia hari ini, semuanya menunjukkan bahwa benda sederhana ini sering menyimpan cerita tentang martabat, kesenjangan, dan cara sebuah masyarakat memahami empati.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM