OPINI - Di Desa Bangunrejo Lor, Kabupaten Ngawi, mengalir Kali Kakah. Di tepi kali itu berdiri sebuah tugu sederhana yang menyimpan salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah Revolusi Indonesia. Pada 12 November 1948, Raden Mas Tumenggung Ario (R.M.T.A.) Soerjo, Gubernur pertama Jawa Timur sekaligus salah satu tokoh penting Pertempuran Surabaya, dibunuh bersama sejumlah pejabat kepolisian oleh pasukan yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Peristiwa itu bukan sekadar kisah tentang kematian seorang pejabat negara. Ia adalah cermin tentang bagaimana revolusi, ketika kehilangan kendali moral, berubah menjadi ruang di mana kemanusiaan ikut terbunuh.
Nama Ario Soerjo mungkin tidak sepopuler Bung Tomo dalam ingatan publik. Padahal, sebagaimana diungkap Hendi Jo dalam artikelnya di Historia edisi 12 November 2017, Soerjo justru merupakan tokoh sentral pemerintahan yang berhadapan langsung dengan pimpinan militer Inggris ketika pecah Pertempuran Surabaya pada Oktober-November 1945. Sebagai Gubernur Jawa Timur, ia tidak hanya memimpin administrasi pemerintahan yang masih sangat muda, tetapi juga menjadi penghubung antara pemerintah pusat, para pejuang, dan pasukan Sekutu.
Jika Bung Tomo mengobarkan semangat melalui pidato radio yang membakar emosi rakyat, Soerjo bekerja di balik meja perundingan, mengelola pemerintahan dalam situasi yang nyaris mustahil. Revolusi memerlukan keduanya. Api perjuangan dan kecakapan kenegaraan.
Ironisnya, tiga tahun kemudian, tokoh yang turut mempertahankan republik itu justru gugur di tangan sesama anak bangsa. Pembunuhan Soerjo berlangsung dalam konteks Pemberontakan Madiun 1948. Setelah gerakan PKI yang dipimpin Musso berhasil dipukul mundur oleh TNI, sejumlah pasukan bergerak menuju wilayah Jawa Timur. Dalam perjalanan mundur itulah terjadi berbagai aksi kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap mewakili kaum feodal atau aparat negara.
Soerjo sebenarnya memiliki alasan pribadi datang ke Madiun. Ia hendak menghadiri peringatan empat puluh hari wafat adiknya, R.M. Sarjoeno, Wedana Sepanjang, yang lebih dahulu menjadi korban pembunuhan dalam pergolakan tersebut. Banyak sahabat, bahkan Mohammad Hatta, menyarankan agar perjalanan itu ditunda. Jalan menuju Madiun masih sangat berbahaya. Namun Soerjo tetap berangkat.
Sejarah sering kali berubah oleh keputusan-keputusan sederhana yang tampaknya biasa pada saat diambil. Dalam perjalanan, berbagai pertanda buruk muncul. Ban mobil pecah. Bensin habis. Mereka harus bermalam di Solo sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Di kawasan hutan jati Bogo, Ngawi, mobil mereka dihentikan oleh pasukan yang dipimpin Maladi Yusuf. Mereka ditawan.
Sehari kemudian, dalam keadaan mata tertutup dan hanya mengenakan celana dalam, Soerjo bersama empat tawanan lainnya digiring ke tepi Kali Kakah. Di sanalah mereka dipenggal menggunakan senjata tajam. Kekerasan revolusi mencapai titik paling gelapnya.
Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah kesaksian warga desa yang masih hidup puluhan tahun kemudian. Hendi Jo mencatat cerita Trisno, seorang sesepuh Bangunrejo Lor, yang masih mengingat bagaimana penduduk dipaksa menguburkan jasad para korban secara tergesa-gesa. Beberapa hari setelah pasukan pemerintah berhasil menguasai daerah itu, warga kembali menggali kuburan dangkal tersebut. Jasad Soerjo ditemukan tertanam di lumpur Kali Kakah yang saat itu mengering.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa korban kekerasan politik bukan hanya mereka yang dibunuh, tetapi juga masyarakat biasa yang dipaksa hidup dalam ketakutan, menyaksikan kekejaman tanpa mampu berbuat banyak.
Menariknya, sejarah juga mencatat adanya penyesalan dari pihak yang berada di kubu lawan. Dalam dokumen yang dikutip Hendi Jo, Soeripno (tokoh PKI yang kemudian dihukum mati) menulis bahwa pimpinan PKI sebenarnya telah memerintahkan agar Soerjo diperlakukan dengan baik. Menurut pengakuannya, pembunuhan itu terjadi dalam situasi panik ketika pasukan pemerintah menyerang, sehingga para penjaga tawanan bertindak di luar kendali pimpinan.
Apakah penyesalan itu menghapus tragedi? Tentu tidak. Namun catatan tersebut memperlihatkan bahwa di tengah konflik ideologi yang keras, masih ada kesadaran moral bahwa pembunuhan terhadap seorang tokoh yang berjasa bagi republik merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Kesadaran semacam itu penting dicatat agar sejarah tidak hanya menjadi ruang saling menyalahkan, tetapi juga ruang belajar tentang konsekuensi kekerasan politik.
Tragedi Kali Kakah juga mengingatkan bahwa revolusi kemerdekaan Indonesia bukanlah kisah hitam-putih. Di dalamnya terdapat heroisme yang luar biasa, tetapi juga luka yang mendalam. Ada keberanian mempertahankan kemerdekaan, tetapi ada pula dendam, salah perhitungan, dan pembunuhan terhadap sesama anak bangsa.
Karena itu, sejarah revolusi tidak boleh hanya dipenuhi kisah kemenangan. Ia juga harus memberi ruang bagi cerita tentang mereka yang gugur bukan di medan perang melawan penjajah, melainkan akibat konflik internal bangsa sendiri.
Kini, tugu sederhana di tepi Kali Kakah masih berdiri. Barangkali tidak banyak orang yang singgah untuk membacanya. Padahal tempat itu menyimpan pelajaran besar. Republik ini dibangun bukan hanya melalui kemenangan atas kolonialisme, tetapi juga melalui pengorbanan orang-orang yang menjadi korban pertikaian di antara sesama anak bangsa.
Gubernur Soerjo telah tiada hampir delapan dekade. Namun warisannya tetap hidup sebagai pengingat bahwa mempertahankan negara memerlukan keberanian, sedangkan mempertahankan kemanusiaan memerlukan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan itu, revolusi yang bertujuan membebaskan manusia justru dapat berubah menjadi mesin yang menghancurkan anak-anaknya sendiri.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo.
Belum ada komentar.