SUARA NGAWI - Dalam sepak bola, ada satu pelajaran yang terus berulang: jangan terlalu percaya pada ramalan. Sebab sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang tidak diunggulkan.

Piala Dunia 1990 di Italia menghadirkan salah satu contoh terbaiknya. Pada 8 Juni 1990, dunia menyaksikan laga pembuka antara juara bertahan Argentina yang dipimpin Diego Maradona melawan Kamerun, tim Afrika yang nyaris tak diperhitungkan. Di atas kertas, pertandingan itu tampak seperti formalitas. Argentina berisi pemain-pemain elite dunia, sementara Kamerun datang dengan reputasi yang jauh lebih sederhana.

Bandar taruhan bahkan memberi peluang kemenangan Kamerun dengan sangat kecil. Bahkan kemenangan mereka hampir mustahil terjadi. Namun justru di situlah keajaiban olahraga bekerja.

Kamerun menang 1-0 lewat gol François Omam-Biyik. Argentina yang dipenuhi bintang gagal membalas. Dunia terkejut. Stadion San Siro gempar. Maradona tertunduk. Dan sebuah babak baru dalam sejarah sepak bola Afrika dimulai.

Menariknya, kemenangan itu bukan sekadar kisah tentang gol atau taktik. Di baliknya terdapat cerita yang lebih dalam tentang kepemimpinan, mentalitas, dan kemampuan sebuah kelompok untuk mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.

Pelatih Kamerun saat itu, Valery Nepomnyashchy, bukan nama besar. Ia datang dari Uni Soviet melalui program bantuan olahraga. Pengalamannya lebih banyak di level klub kecil dibanding panggung internasional. Bahkan sejak awal bertugas, ia harus menghadapi persoalan yang terdengar nyaris mustahil bagi seorang pelatih profesional.

Ada kendala bahasa. Ada konflik dengan federasi. Ada campur tangan politik. Ada pemain titipan. Ada persaingan antarkiper. Bahkan jadwal dan perencanaan tim sering kali berjalan tanpa kepastian. Bagi seseorang yang dibesarkan dalam budaya disiplin Soviet, situasi itu tentu terasa seperti mimpi buruk.

Dalam banyak organisasi, kondisi seperti ini biasanya menjadi resep menuju kegagalan. Namun Kamerun justru menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam buku manajemen mana pun: semangat kolektif yang lahir dari kesadaran bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk kehilangan.

Fenomena ini menarik untuk dianalisis. Dalam psikologi sosial dikenal konsep underdog effect, yakni kecenderungan kelompok yang diremehkan untuk menunjukkan motivasi lebih besar dibanding pihak yang merasa superior. Ketika ekspektasi publik sangat rendah, tekanan juga berkurang. Sebaliknya, kelompok tersebut terdorong membuktikan bahwa penilaian orang lain keliru. Itulah yang tampaknya terjadi pada Kamerun.

Sebelum pertandingan melawan Argentina, para pemain Kamerun melihat rekaman latihan lawan. Mereka menyaksikan para pemain Argentina tampak santai dan sering bercanda. Bagi sebagian orang itu mungkin biasa saja. Namun bagi para pemain Kamerun, sikap tersebut dianggap sebagai bentuk meremehkan. Rasa tersinggung itu berubah menjadi bahan bakar. Mereka berlari lebih keras, bertahan lebih disiplin, dan bertarung lebih gigih. Mereka tidak hanya bermain untuk menang. Mereka bermain untuk harga diri.

Di sinilah letak pelajaran yang melampaui sepak bola. Dalam kehidupan sehari-hari, baik di birokrasi, organisasi, dunia usaha, maupun pendidikan, sering kali keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh sumber daya terbesar. Banyak institusi memiliki anggaran besar, fasilitas lengkap, dan SDM terbaik, tetapi gagal karena terlena oleh status dan kenyamanan. Sebaliknya, kelompok yang serba terbatas sering kali mampu melampaui ekspektasi karena memiliki rasa untuk membuktikan diri.

Kisah Kamerun juga menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan tentang menciptakan kondisi yang sempurna, melainkan tentang mengelola ketidaksempurnaan. Nepomnyashchy tidak mewarisi tim ideal. Ia justru harus bekerja di tengah konflik, tekanan politik, dan keterbatasan sumber daya. Namun ia berhasil menjaga fokus tim pada tujuan yang lebih besar.

Hasilnya luar biasa. Kamerun tidak berhenti setelah mengalahkan Argentina. Mereka terus melaju hingga perempat final dan menjadi tim Benua Afrika pertama yang mencapai tahap tersebut dalam sejarah Piala Dunia. Prestasi itu membuka jalan bagi generasi berikutnya, seperti Senegal pada tahun 2002, Ghana pada tahun 2010, dan Maroko pada tahun 2022 yang bahkan berhasil menembus semifinal.

Tiga puluh tahun lebih telah berlalu sejak kejutan di San Siro itu terjadi. Namun maknanya tetap relevan. Kamerun 1990 mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu berpihak kepada yang paling kuat. Kadang-kadang sejarah justru berpihak kepada mereka yang paling berani menolak tunduk pada prediksi.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.