SUARA NGAWI - Setiap 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini biasanya membawa ingatan pada lahirnya kesadaran kebangsaan, bahwa kemajuan tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari usaha bersama untuk belajar, berpikir, dan membangun masa depan. Namun, di tengah hiruk-pikuk zaman digital hari ini, ada pertanyaan yang layak diajukan kembali. Apakah semangat kebangkitan itu juga hidup dalam budaya membaca kita?
Pertanyaan ini penting karena bangsa yang ingin bangkit sejatinya membutuhkan warga yang akrab dengan pengetahuan. Dan, salah satu jalannya adalah melalui buku.
Sayangnya, budaya membaca di Indonesia masih menghadapi jalan terjal. Pandemi beberapa tahun lalu memperlihatkan kenyataan itu. Daya beli masyarakat menurun, prioritas kebutuhan berubah, dan membeli buku sering kali tersingkir dari daftar belanja keluarga. Mengajak anak ke perpustakaan atau toko buku juga belum menjadi kebiasaan umum di banyak rumah.
Padahal, di saat yang sama, dunia digital berkembang begitu cepat. Informasi datang tanpa henti melalui layar ponsel. Berita, video pendek, komentar, dan berbagai tren berlomba merebut perhatian kita. Ironisnya, banjir informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kebiasaan membaca yang lebih baik.
Sejarawan Denys Lombard pernah mencatat bahwa masyarakat Indonesia secara historis tumbuh dengan tradisi lisan dan pengalaman kolektif. Cerita diwariskan melalui dongeng, pertunjukan, atau kisah yang dinikmati bersama. Membaca dalam keheningan sebagai kegiatan individual memang bukan tradisi yang sejak awal dominan.
Tradisi lisan itu sesungguhnya kekayaan budaya. Masalah muncul ketika ruang kolektif lama itu memudar, tetapi budaya membaca belum cukup kuat menggantikannya. Para penutur cerita perlahan bergeser menjadi pembaca berita televisi, pelawak layar kaca, hingga pegiat media sosial. Narasi tetap hidup, tetapi ritmenya berubah: lebih cepat, lebih visual, tapi sayangnya kurang mendalam.
Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai snobisme virtual, yaitu kecenderungan untuk terlihat paling tahu atau paling relevan di ruang digital. Kadang kita lebih sibuk ikut berbicara daripada benar-benar membaca dan memahami.
Saya sering merasa media sosial menghadirkan paradoks itu. Banyak orang cepat memberi opini tentang isu besar, tetapi sedikit yang membaca sumbernya sampai tuntas. Judul berita dianggap cukup, potongan video diperlakukan sebagai kebenaran utuh, dan kutipan singkat menggantikan proses memahami gagasan secara menyeluruh.
Namun, di tengah dunia yang serba cepat itu, buku fisik sebenarnya belum kehilangan tempatnya. Kita masih melihat bazar buku yang ramai, rak-rak novel yang diserbu pembeli, atau orang tua yang sengaja mengenalkan buku kepada anak-anaknya sejak dini. Ada kenikmatan yang sulit digantikan teknologi: memegang halaman kertas, mencium aroma buku, atau membuka kembali bacaan lama yang pernah menemani masa tertentu dalam hidup.
Buku digital tentu membawa manfaat besar. Ia membuat akses pengetahuan lebih murah dan praktis. Persoalannya bukan memilih buku cetak atau digital. Yang lebih mendasar adalah apakah kita masih memberi ruang bagi kegiatan membaca yang sungguh-sungguh. Sebab, tantangan membaca hari ini bukan hanya soal minat, tetapi juga soal penghargaan terhadap buku itu sendiri.
Di balik setiap buku ada kerja panjang yang jarang terlihat. Ada penulis yang bertahun-tahun melakukan riset, editor yang menyunting, ilustrator yang bekerja pada detail visual, dan penerbit yang menanggung biaya produksi. Karena itu, ketika pembajakan buku tumbuh menjadi industri gelap bernilai miliaran rupiah, yang dirugikan bukan hanya penerbit, tetapi juga ekosistem pengetahuan.
Investigasi Kompas memperlihatkan bagaimana mesin-mesin cetak buku bajakan bekerja hampir seperti industri biasa. Buku yang laris segera digandakan dalam jumlah besar dan dijual murah ke berbagai kota. Banyak orang mungkin menganggap buku bajakan sekadar pilihan ekonomis. Tetapi sesungguhnya, yang dicuri bukan hanya kertas dan tinta, melainkan hasil kerja intelektual.
Ironisnya, masyarakat yang ingin murah sering lupa bahwa pengetahuan yang tidak dihargai lambat laun akan kehilangan penulis dan penerbit yang mau memperjuangkannya.
Karena itu, Hari Kebangkitan Nasional rasanya relevan untuk dibaca dengan cara berbeda. Kebangkitan tidak selalu berarti pidato besar atau slogan heroik. Ia bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membiasakan membaca, mengajak anak mencintai buku, mendukung karya yang legal, dan memberi ruang bagi pengetahuan untuk tumbuh.
Teknologi boleh terus berkembang dan dunia digital boleh semakin dominan. Tetapi bangsa yang ingin maju tetap membutuhkan warga yang mampu berpikir pelan di tengah arus yang serba cepat. Buku, baik fisik maupun digital, masih menyediakan ruang itu.
Hari Kebangkitan Nasional hari ini bukan lagi soal melawan penjajahan fisik, melainkan melawan kemalasan berpikir, budaya instan, dan godaan menjadi generasi yang hanya ramai berbicara tetapi enggan membaca. Sebab dari membaca, kesadaran akan tumbuh. Dan dari kesadaran itulah, kebangkitan sebuah bangsa akan dimulai.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.
Belum ada komentar.