Budi Hantara: Hari Pahlawan Bukan Sekadar Catatan Sejarah

Budi Hantara: Hari Pahlawan Bukan Sekadar Catatan Sejarah
Budi Hantara

NGAWI - Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah berkorban jiwa raga untuk mempertahankan kemerdekaan.

Hari Pahlawan berkaitan erat dengan peristiwa heroik yang terjadi di Surabaya pada tahun 1945. Peristiwa tersebut sangat dahsyat dan mengerikan.

Pertempuran yang terjadi bukan hanya dahsyat dari sudut pandang militer, tetapi juga tragis secara kemanusiaan. Ribuan pejuang dan rakyat sipil gugur dalam pertempuran tersebut.

Pada tanggal 29 September 1945 pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Inggris datang di Indonesia dengan alasan untuk melucuti senjata tentara Jepang dan memulangkan mereka ke negara asalnya.

Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi tentara Belanda atau NICA (Netherlands Indies Civil Administration) memicu terjadinya perlawanan dari para pejuang Indonesia.

Kedatangan pasukan Sekutu di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 dipimpin oleh Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby menimbulkan ketegangan. Rakyat Surabaya menolak keras kehadiran mereka, karena dianggap sebagai bentuk penjajahan baru.

Penolakan mereka karena pasukan Sekutu yang diboncengi tentara Belanda yang dianggap sebagai musuh. Sebelum keatangan pasukan Sekutu di Surabaya telah terjadi konflik antara pejuang dengan orang-orang Belanda.

Keadaan semakin memanas ketika terjadi insiden pengibaran bendera Belanda di hotel Yamato (sekarang hotel Majapahit). Peristiwa bendera di hotel Yamato Surabaya terjadi pada 19 September 1945. Pada saat itu sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera Merah-Putih-Biru di atas hotel Yamato sebagai simbol kembalinya kekuasaan Belanda.

Tindakan tersebut memicu kemarahan rakyat Surabaya. Para pemuda yang dipimpin oleh Hariyono dan Koesno Wibowo menyerbu hotel Yamato. Mereka merobek bagian biru bendera Belanda, dan menyisakan warna merah putih sebagai lambang kedaulatan Indonesia. Insiden ini menimbulkan konflik dengan Sekutu tidak bisa dihindari dan menjadi awal dari pertempuran besar di Surabaya yang menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby.

Menurut Sejarah Nasional Indonesia VI (Notosusanto, 1984), “peristiwa ini menyalakan bara perlawanan rakyat Surabaya terhadap kembalinya kolonialisme.”

Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby

Pertempuran di Surabaya mencapai puncaknya setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Komandan pasukan Sekutu di Jawa Timur tersebut gugur pada 30 Oktober 1945. Dalam bentrokan bersenjata dengan para pejuang Indonesia di sekitar Gedung Internatio (Jembatan Merah) Ia guugur setelah mobil yang ditumpangi meledak dan terbakar. Kematian Mallaby membuat pihak Sekutu marah besar.

Pada tanggal 9 November 1945, Sekutu mengeluarkan ultimatum yang menuntut agar seluruh senjata diserahkan dan pasukan Indonesia menghentikan perlawanan. Mereka juga mengancam akan menggempur kota Surabaya jika tuntutan itu tidak dipenuhi sebelum pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945. Namun, para pejuang dan rakyat Surabaya menolak ultimatum tersebut.

Pertempuran 10 November 1945

Pada tanggal 10 November 1945 dini hari, pasukan Sekutu melancarkan serangan besar-besaran ke Surabaya dengan dukungan pesawat tempur, tank, dan artileri berat. Kota Surabaya dibombardir tanpa henti. Namun, semangat juang rakyat tidak surut. Mereka melawan dengan senjata seadanya. Bambu runcing, granat rakitan, dan senjata rampasan dari tentara Jepang mereka gunakan untuk menghadapi pasukan Sekutu.

Pidato Bung Tomo (Sutomo), melalui siaran radio menjadi pembakar semangat perlawanan rakyat Surabaya. Dalam salah satu pidatonya yang terkenal, ia berteriak lantang:

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air! Kita tidak akan mundur selangkah pun. Lebih baik hancur lebur daripada dijajah kembali!”

Pidato tersebut menjadi simbol keberanian dan tekad rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Meskipun korban berjatuhan tidak terhitung (diperkirakan puluhan ribu pejuang gugur) semangat juang rakyat Surabaya tidak pernah padam. Semangat juang mereka menjadi inspirasi bagi seluruh bangsa Indonesia.

Nilai-Nilai Kepahlawanan dari 10 November

Peristiwa 10 November 1945 bukan hanya catatan sejarah, tetapi mengandung nilai-nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Nilai-nilai luhur tersebut seperti patriotisme, cinta tanah air, persatuan, dan rela berkorban, pantang menyerah yang harus kita pahami.

Patriotisme dan cinta tanah air

Para pejuang dalam pertempuran di Surabaya menunjukkan sikap cinta tanah air dalam tindakan nyata untuk mempertahankan kemerdekaan.

Semangat persatuan

Dalam pertempuran di Surabaya, rakyat dari berbagai latar belakang sosial, suku, dan agama bersatu melawan penjajah.

Rela berkorban

Banyak pejuang yang rela mengorbankan jiwa raga, keluarga, dan harta demi kemerdekaan.

Pantang menyerah

Sikap pantang menyerah para pejuang menjadi teladan bagi generasi masa kini untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.

Peringatan Hari Pahlawan yang kita laksanakan setiap tanggal 10 November bukan sekadar upacara seremonial. Peringatan Hari Pahlawan merupakan momentum yang tepat untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme di tengah tantangan zaman modern. Bila tidak disikapi dengan bijaksana bisa membahayakan masa depan bangsa. Pergeseran nilai yang mengarah pada sikap individualistis mengakibatkan merosotnya semangat persatuan dan nasionalisme. Untuk menghindari hal tersebut maka generasi muda harus meneladani semangat juang para pahlawan dengan cara berkontribusi nyata sesuai peran masing-masing. Misalnya dengan cara belajar tekun, berkarya, dan menjaga persatuan bangsa. Sebagaimana dikutip dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (2023):

“Hari Pahlawan adalah saat yang tepat untuk menyalakan kembali api semangat perjuangan dalam diri setiap warga negara Indonesia agar terus berjuang mengisi kemerdekaan dengan karya dan prestasi.”

Ngawi, 3 November 2025

Penulis: Budi Hantaran (Guru SMP Negeri 1 Ngawi).