SUARA NGAWI - Setiap tanggal 21 April, nama Kartini selalu memenuhi ruang-ruang kita. Kutipan suratnya beredar, foto berkebaya muncul di sekolah, dan pidato tentang emansipasi perempuan kembali dibacakan. Namun, di balik gemerlap nama besar itu, ada satu sosok yang nyaris selalu luput dari ingatan. Dialah Raden Ajeng Kardinah, adik Kartini, yang diam-diam meneruskan mimpi kakaknya dengan kerja nyata.

Jika Kartini mewariskan gagasan melalui surat-surat, Kardinah mewujudkannya lewat sekolah, rumah sakit, perpustakaan, dan rumah penampungan. Ia seperti bekerja dalam sunyi, tanpa banyak sorotan, tetapi jejaknya benar-benar menyentuh hidup orang banyak.

Barangkali memang tidak mudah hidup di bawah bayang-bayang nama sebesar Kartini. Sejarah biasanya lebih mudah mengingat mereka yang menulis gagasan besar daripada mereka yang tekun mengerjakannya sedikit demi sedikit. Padahal, tanpa orang-orang seperti Kardinah, cita-cita emansipasi bisa saja berhenti sebagai wacana yang indah di atas kertas.

Lahir di Jepara pada 1 Maret 1881, Kardinah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menanamkan kepekaan sosial. Ayahnya, RM Sosroningrat, merupakan Bupati Jepara yang kerap mengajak anak-anaknya melihat langsung penderitaan rakyat. Cara pendidikan seperti ini terasa sederhana, tetapi sangat membentuk watak. Empati tidak lahir dari ceramah, melainkan dari melihat kenyataan dengan mata sendiri.

Pengalaman itulah yang kelak menjadikan Kardinah tidak puas hanya menjadi perempuan priyayi yang hidup nyaman di pendapa. Pada tanggal 24 Januari 1902 ia menikah dengan Patih Soejitno, anak Bupati Tegal Ario Reksonegoro. Setelahnya, ia tinggal di Tegal dan mulai membangun apa yang dulu dicita-citakan bersama saudara kandungnya: Kartini dan Rukmini, yakni pendidikan bagi perempuan. Saking kompaknya, Nyonya Ovink-Soer, istri asisten residen Jepara menjuluki ketiga saudara kandung tersebut sebagai Het Klaverblad (daun semanggi).

Yang menarik, cara berpikir Kardinah terasa sangat maju untuk zamannya. Ia sadar bahwa perubahan sosial tidak cukup dimulai dari sekolah formal yang elitis. Ia percaya ibu adalah pusat pendidikan keluarga. Maka perempuan harus lebih dulu dicerdaskan agar bisa melahirkan generasi yang lebih baik. Gagasan ini terasa begitu relevan bahkan sampai hari ini. Di tengah hiruk-pikuk debat soal kurikulum dan sistem pendidikan, kita sering lupa bahwa fondasi paling awal tetap berada di rumah.

Dari keyakinan itulah lahir Sekolah Kepandaian Putri Wismo Pranowo di Tegal pada tahun 1916. Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar membaca atau menulis, tetapi ruang pembentukan perempuan yang utuh. Mulai dari belajar bahasa Belanda, kebudayaan Jawa, membatik, pertolongan pertama pada kecelakaan, pendidikan watak, hingga mengaji. Kombinasi ini menunjukkan satu hal penting, bahwa Kardinah tidak ingin perempuan hanya terdidik, tetapi juga berdaya dan berpijak pada identitas budayanya.

Yang menarik, sekolah ini dibangun dengan semangat gotong royong. Biayanya murah, bahkan banyak kebutuhan siswa ditanggung bersama. Kardinah juga menggalang dana sendiri, termasuk dari hasil penjualan buku masak dan batik yang ia tulis, juga dari hasil pasar amal dan sumbangan masyarakat. Ini bukan proyek besar pemerintah, melainkan kerja sosial yang tumbuh dari kepedulian nyata.

Namun perjuangannya tidak berhenti di pendidikan. Kardinah juga melihat persoalan kesehatan, terutama bagi perempuan. Ia prihatin melihat ibu-ibu melahirkan tanpa bantuan medis yang layak. Dari kegelisahan itu, ia mendirikan rumah sakit pada tahun 1927, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Kardinah di Tegal. Lagi-lagi, ini bukan sekadar simbol. Ini fasilitas nyata yang menyelamatkan nyawa.

Sayangnya, nasib Kardinah setelah kemerdekaan terasa getir. Dalam kekacauan revolusi sosial, ia beserta keluarganya sempat ditangkap dan dipermalukan karena dianggap simbol feodalisme. Selain diancam akan dibunuh, mereka dipakaikan baju dari goni lalu diarak keliling kota. Tentu saja ini ironi yang amat pahit. Seseorang yang hidupnya diabdikan untuk rakyat justru diseret sebagai musuh rakyat. Trauma itu membekas lama, membuatnya menjauh dari Tegal.

Ia baru “ditemukan kembali” bertahun-tahun kemudian, yang ternyata hidup dalam kesunyian di Salatiga. Ketika akhirnya kembali ke Tegal, sambutan haru datang dari masyarakat. Tapi rasanya tetap ada yang tertinggal: pengakuan yang datang terlambat.

Hari ini, nama Kardinah mungkin hanya melekat pada sebuah rumah sakit. Tidak banyak monumen, tidak banyak perayaan. Tapi mungkin justru di situlah maknanya. Ia tidak hidup untuk dikenang, melainkan untuk memberi.

Di tengah gegap gempita peringatan Hari Kartini, kisah Kardinah seperti bisikan pelan yang mengingatkan kita, bahwa perubahan tidak selalu datang dari suara yang paling keras. Kadang ia lahir dari kerja-kerja sunyi, dari orang-orang yang tidak terlalu ingin dilihat, tapi diam-diam mengubah banyak hal.

Dan mungkin, kalau kita mau jujur, Indonesia hari ini masih sangat membutuhkan lebih banyak “Kardinah”, yaitu orang-orang yang tidak sibuk mengejar simbol ketenaran dan mencari tepuk tangan, tapi orang-orang yang sungguh bekerja untuk negerinya dengan penuh ketulusan.
Top of Form

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM