SUARA NGAWI - Setiap 1 Juni, linimasa media sosial biasanya dipenuhi ucapan tentang Pancasila. Ada gambar Garuda, kutipan Bung Karno, hingga poster bertema persatuan. Namun di balik peringatan itu, ada sejarah yang ternyata tidak sesederhana yang sering kita bayangkan. Banyak orang mengira Hari Lahir Pancasila sejak dulu diperingati secara rutin. Padahal, perjalanan tanggal 1 Juni justru berliku, diperdebatkan, bahkan pernah nyaris tenggelam dari ingatan publik.
Cerita ini bermula pada tanggal 1 Juni 1945. Di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soekarno menyampaikan pidato tentang dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Lahirnya Pancasila. Dalam pidato itu, Soekarno menawarkan lima prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan. Ia lalu memberi nama gagasan tersebut dengan nama Pancasila.
Namun sejarah tidak berjalan lurus. Sejak awal, ada perdebatan mengenai kapan sebenarnya Pancasila “lahir”. Sebagian kalangan menganggap tanggal 1 Juni layak diperingati karena menjadi momen pertama gagasan itu diperkenalkan ke ruang publik. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa tanggal yang lebih tepat adalah tanggal 18 Agustus 1945, saat Pancasila disahkan dalam Pembukaan UUD 1945. Ada pula yang mengingatkan bahwa sebelum pidato Soekarno, tokoh seperti Mohammad Yamin dan Soepomo juga telah menyampaikan gagasan tentang dasar negara.
Perdebatan itu membuat Hari Lahir Pancasila tidak langsung memiliki bentuk peringatan resmi seperti sekarang. Soekarno sendiri tampaknya menyadari pentingnya memperkenalkan Pancasila kepada masyarakat luas. Menurut sejumlah kesaksian, ia rajin membicarakan Pancasila dalam berbagai pidato dan rapat umum di banyak daerah. Baginya, Pancasila bukan sekadar konsep hukum yang tersimpan dalam konstitusi, melainkan pandangan hidup yang perlu dipahami rakyat.
Yang menarik, sejarah peringatan 1 Juni justru berkaitan dengan dinamika politik pada era Demokrasi Terpimpin. Menurut catatan sejarah, Soekarno mulai memberi perhatian serius pada peringatan Hari Lahir Pancasila setelah muncul pernyataan Ketua PKI, D.N. Aidit, pada tahun 1964 yang mempertanyakan masa depan Pancasila sebagai falsafah negara. Aidit berpendapat bahwa Pancasila mungkin hanya relevan sementara dalam konteks persatuan politik saat itu. Pernyataan ini menimbulkan kegelisahan dan menjadi salah satu latar yang mendorong Soekarno menegaskan kembali posisi Pancasila.
Maka lahirlah peringatan resmi yang cukup besar. Meski ada catatan bahwa peringatan lahirnya Pancasila pernah digelar pada tahun 1958 di Istana Negara, momentum 1 Juni 1964 menjadi titik penting. Saat itu pemerintah mengangkat slogan “Pancasila Sepanjang Masa”. Ribuan orang hadir, pidato disampaikan, dan Pancasila diposisikan bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga perekat bangsa. Bahkan untuk pertama kalinya diperdengarkan Mars Pancasila ciptaan Sudharnoto.
Dalam pidatonya, Soekarno menegaskan bahwa Pancasila telah membuktikan dirinya mampu mempersatukan Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. Ia berharap perdebatan soal Pancasila tidak lagi dipertajam, sebagaimana orang tidak memperdebatkan bendera Merah Putih atau lagu Indonesia Raya. Tetapi politik Indonesia segera berubah drastis.
Pasca-1965 dan naiknya pemerintahan Orde Baru, arah peringatan Pancasila ikut bergeser. Pemerintah lebih menonjolkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, yang dikaitkan dengan kegagalan Gerakan 30 September. Sementara peringatan 1 Juni perlahan meredup. Bahkan mulai tahun 1970, peringatan Hari Lahir Pancasila dilarang sebagai bagian dari proses yang sering disebut sebagai “desukarnoisasi”, yakni upaya mengurangi pengaruh dan warisan politik Soekarno.
Sejarah terkadang terasa ironis. Pancasila tetap diajarkan, bahkan menjadi ideologi resmi negara melalui penataran dan berbagai kebijakan politik. Namun hari kelahirannya sendiri justru tidak menjadi perayaan utama.
Baru puluhan tahun kemudian keadaan berubah. Pada tanggal 1 Juni 2016, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 menetapkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila. Sejak 2017, tanggal itu resmi menjadi hari libur nasional. Dengan keputusan tersebut, negara seolah mengembalikan satu halaman sejarah yang lama berada di pinggir ingatan.
Inilah menariknya sejarah Pancasila. Ia bukan hanya cerita tentang lima sila yang dihafal di sekolah. Ia juga kisah tentang gagasan yang hidup, diperdebatkan, digunakan, bahkan pernah diperebutkan maknanya. Dan barangkali, justru karena pernah melewati jalan berliku itulah, Pancasila tetap bertahan sebagai rumah bersama oleh bangsa ini.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.
Belum ada komentar.