SUARA NGAWI - Lebaran di Indonesia selalu terasa istimewa. Ia bukan sekadar hari raya keagamaan, tetapi juga perayaan budaya yang sarat makna. Dari ketupat di meja makan hingga tradisi saling memaafkan, semuanya terasa akrab. Namun kini, di tengah kemajuan teknologi, dengan adanya internet, gawai, dan media sosial, cara kita menjalani lebaran perlahan berubah.

Salah satu simbol paling khas di hari lebaran adalah ketupat. Bagi sebagian orang, ia hanyalah pelengkap opor ayam. Namun dalam tradisi Jawa, ketupat menyimpan filosofi yang dalam, terutama bila dikaitkan dengan ajaran Sunan Kalijaga. Kata “kupat” dimaknai sebagai ngaku lepat (mengakui kesalahan). Sementara anyamannya yang rumit melambangkan kesalahan manusia yang sering kali berlapis dan tak sederhana.

Menariknya, ketika ketupat dibelah, isinya berwarna putih bersih. Ini menjadi simbol bahwa setelah mengakui kesalahan dan saling memaafkan, manusia kembali pada keadaan yang suci. Filosofi ini terasa sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam, bahwa lebaran bukan hanya soal merayakan kemenangan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengakui kekeliruan dan memperbaiki diri.

Namun di era digital, makna ini menghadapi tantangan baru. Permintaan maaf kini sering hadir dalam bentuk pesan broadcast. Satu klik, terkirim ke ratusan kontak. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” menjadi template yang berulang. Praktis, cepat, tetapi kadang terasa kurang personal. Padahal, inti dari ngaku lepat adalah kesadaran diri yang jujur, bukan sekadar formalitas.

Jika melihat ke masa lalu, sebagaimana dicatat oleh Historia, lebaran selalu menjadi ruang sosial yang hangat. Orang-orang saling mengunjungi, berbincang panjang, dan mempererat hubungan. Silaturahmi bukan hanya aktivitas, tetapi pengalaman emosional yang melibatkan kehadiran fisik dan perhatian penuh.

Kini, sebagian pengalaman itu bergeser ke layar. Video call menggantikan tatap muka, pesan instan menggantikan kartu ucapan, dan media sosial menjadi “ruang tamu” baru. Ada sisi positifnya, yakni jarak bukan lagi penghalang. Keluarga yang terpisah ribuan kilometer tetap bisa saling menyapa dalam hitungan detik. Bahkan, tradisi lebaran bisa dirayakan lintas negara tanpa harus menunggu mudik.

Namun di sisi lain, kehadiran teknologi juga membawa distraksi. Saat berkumpul, tidak jarang orang lebih sibuk dengan ponselnya daripada dengan orang di depannya. Momen kebersamaan yang seharusnya hangat bisa berubah menjadi sunyi, karena masing-masing asyik berselancar dan tenggelam dalam jaringan internet.

Menariknya, tradisi saling memaafkan yang menjadi inti lebaran sebenarnya semakin relevan di tengah dunia digital. Menurut National Geographic Indonesia, memaafkan memiliki manfaat psikologis: mengurangi stres, menenangkan pikiran, dan memperbaiki hubungan sosial. Dalam konteks media sosial, di mana konflik dan kesalahpahaman sering terjadi, kemampuan memaafkan menjadi semakin penting.

Media sosial mempercepat komunikasi, tetapi juga mempercepat konflik. Komentar yang salah, unggahan yang menyinggung, atau perdebatan yang memanas bisa meninggalkan luka. Di sinilah lebaran berfungsi menjadi semacam “reset sosial” atau kesempatan untuk meredakan ketegangan yang mungkin terjadi sepanjang tahun, termasuk di dunia maya.

Teknologi, pada akhirnya, hanyalah alat. Ia bisa memperkuat makna lebaran, tetapi juga bisa mengaburkannya. Mengirim ucapan lewat pesan singkat tidak salah, tetapi akan lebih bermakna jika disertai niat yang tulus. Video call bisa menjadi jembatan emosional, asalkan kita benar-benar hadir, bukan sekadar formalitas.

Ketupat mengajarkan kita tentang kejujuran mengakui kesalahan. Tradisi lama mengajarkan pentingnya kebersamaan. Sementara teknologi menawarkan cara baru untuk menjaga hubungan. Tantangannya adalah bagaimana kita menggabungkan ketiganya tanpa kehilangan esensi.

Lebaran di era digital seharusnya tidak kehilangan kedalaman maknanya. Justru dengan teknologi, kita punya lebih banyak cara untuk berbuat baik: menyapa orang yang lama tak dihubungi, meminta maaf dengan lebih personal, atau sekadar hadir sepenuhnya dalam percakapan, baik offline maupun online.

Pada akhirnya, lebaran bukan tentang seberapa canggih cara kita merayakannya, tetapi seberapa tulus kita menjalaninya. Di tengah notifikasi yang tak pernah henti, mungkin yang paling penting adalah berhenti sejenak, menatap orang di depan kita, dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Mohon maaf lahir dan batin, ya.”

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM