SUARA NGAWI - Omar Abdulkadir Artan mungkin tidak pernah menyangka bahwa rintangan terbesar dalam kariernya bukanlah tekanan puluhan ribu penonton di stadion atau keputusan kontroversial di lapangan. Rintangan itu justru datang dari meja pemeriksaan imigrasi di Bandara Internasional Miami, Amerika Serikat.
Setelah menjalani pemeriksaan selama sebelas jam, wasit terbaik Afrika 2025 asal Somalia itu ditolak masuk ke Amerika Serikat. Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri mimpinya untuk menjadi orang Somalia pertama yang bertugas sebagai wasit di Piala Dunia FIFA 2026.
Di atas kertas, kisah ini tampak seperti perkara administratif biasa. Otoritas perbatasan Amerika Serikat berhak menentukan siapa yang boleh memasuki wilayahnya. FIFA sendiri mengakui tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi keputusan imigrasi negara tuan rumah. Dari sudut hukum, semuanya tampak berjalan sesuai prosedur.
Namun, di balik prosedur itu tersimpan sebuah ironi yang lebih besar. Artan bukan sekadar wasit. Ia adalah simbol harapan bagi Somalia. Lahir di Mogadishu pada tahun 1992, Artan tumbuh di tengah salah satu periode paling sulit dalam sejarah negaranya.
Sejak runtuhnya pemerintahan Siad Barre pada tahun 1991, Somalia terjerumus dalam perang saudara berkepanjangan yang memecah negara itu menjadi wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok bersenjata. Nama Somalia selama puluhan tahun lebih sering muncul dalam berita tentang kelaparan, pembajakan laut, terorisme, dan pengungsian dibandingkan prestasi olahraga.
Di tengah situasi itulah Artan memilih jalan yang tidak lazim. Ia bukan pesepak bola profesional. Ia memilih menjadi wasit. Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi banyak warga Somalia, profesi tersebut adalah simbol keteraturan, keadilan, dan integritas. Nilai-nilai yang terdengar langka di negara yang lama dirundung konflik.
Karier Artan dibangun dari bawah. Ia memimpin pertandingan di lapangan-lapangan sederhana Somalia, mengikuti program pengembangan wasit FIFA, hingga akhirnya memperoleh lisensi FIFA pada tahun 2018. Sejak itu kariernya melesat. Pada tahun 2024 ia menjadi wasit Somalia pertama yang memimpin pertandingan Piala Afrika. Setahun kemudian ia dipercaya memimpin final Liga Champions Afrika dan dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik Afrika oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Prestasi tersebut bukan hanya kemenangan pribadi. Ia menjadi bukti bahwa Somalia mampu menghasilkan talenta yang diakui dunia. Karena itu, ketika Artan mengatakan bahwa setiap pertandingan yang dipimpinnya membawa harapan jutaan warga Somalia, pernyataan itu bukanlah retorika. Ia sungguh memikul beban simbolik yang besar. Di pundaknya terdapat impian sebuah bangsa yang selama ini berjuang keluar dari stigma negara gagal.
Di sinilah kasus penolakan masuk Amerika menjadi menarik sekaligus menyedihkan. Olahraga modern sering dipromosikan sebagai ruang universal yang melampaui batas negara, ras, agama, dan politik. FIFA berulang kali menggaungkan slogan bahwa sepak bola menyatukan dunia. Piala Dunia bahkan kerap disebut sebagai perayaan global terbesar setelah Olimpiade.
Namun sejarah menunjukkan bahwa olahraga tidak pernah benar-benar bebas dari politik. Olimpiade Berlin 1936 dimanfaatkan Adolf Hitler sebagai alat propaganda Nazi. Piala Dunia 1978 berlangsung di tengah kediktatoran militer Argentina. Olimpiade Moskwa 1980 dan Los Angeles 1984 berubah menjadi arena boikot Perang Dingin. Bahkan hingga hari ini, konflik geopolitik masih memengaruhi partisipasi atlet dan ofisial dalam berbagai kompetisi internasional.
Kasus Artan memperlihatkan bentuk baru dari persoalan lama itu. Meski memiliki visa dan paspor diplomatik, Artan tetap menghadapi kenyataan bahwa kewarganegaraannya sebagai warga Somalia membuat dirinya berada dalam kategori yang dicurigai. Prestasi internasional yang ia raih selama bertahun-tahun ternyata tidak sepenuhnya mampu menghapus beban identitas geopolitik yang melekat pada paspornya. Di sinilah letak paradoks globalisasi.
Dunia saat ini memungkinkan siaran pertandingan disaksikan miliaran orang secara serentak. Sponsor, pemain, dan modal bergerak melintasi benua tanpa banyak hambatan. Namun manusia masih dinilai berdasarkan negara asalnya. Mobilitas global ternyata tidak dinikmati secara setara oleh semua orang. Seorang wasit terbaik Afrika ternyata dikalahkan oleh cap paspor yang dianggap berasal dari negara “berisiko”.
Mungkin suatu hari Omar Artan akan mendapatkan kesempatan lain. Usianya baru 34 tahun dan kariernya masih panjang. Namun peristiwa ini akan tetap dikenang sebagai pengingat bahwa kerja keras, profesionalisme, dan prestasi terkadang masih harus berhadapan dengan tembok politik yang tidak terlihat. Peluitnya telah siap dibunyikan di Piala Dunia. Namun sejarah berkata lain. Kali ini, paspor lebih berkuasa daripada peluit.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.
Belum ada komentar.