SUARA NGAWI - Ada nama-nama yang menghilang dari kehidupan nyata, tetapi justru semakin hidup dalam ingatan publik. Eddy Tansil adalah salah satunya.
Generasi yang tumbuh pada era 1990-an mungkin masih ingat bagaimana namanya beredar dari ruang sidang, halaman surat kabar, hingga obrolan di warung-warung. Ia bukan artis, bukan jenderal, bukan pula politisi. Ia adalah terpidana kasus korupsi kredit Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) yang merugikan negara sekitar Rp1,3 triliun, angka yang pada masa itu terdengar nyaris tak masuk akal.
Namun yang membuat Eddy Tansil menjadi legenda bukanlah besarnya korupsi yang ia lakukan. Indonesia, sayangnya, tidak pernah kekurangan koruptor besar. Yang membuatnya berbeda adalah satu pertanyaan yang belum terjawab hingga hari ini: bagaimana mungkin seorang narapidana bisa kabur dari penjara dan lenyap selama puluhan tahun?
Di titik inilah kisah Eddy Tansil terasa seperti gabungan dua film Hollywood yang sangat berbeda: Catch Me If You Can dan The Shawshank Redemption.
Dalam Catch Me If You Can, Frank Abagnale Jr. adalah penipu ulung yang diperankan Leonardo DiCaprio. Ia memalsukan identitas sebagai pilot, dokter, hingga pengacara. Bukan kekerasan yang menjadi senjatanya, melainkan kecerdasan, keberanian, dan kemampuan membaca kelemahan sistem. Semakin lama ia beraksi, semakin besar pula mitos yang tumbuh di sekeliling namanya.
Ada kemiripan yang mencolok dengan Eddy Tansil. Keduanya adalah figur yang lahir dari dunia kejahatan kerah putih. Mereka tidak merampok bank dengan pistol. Mereka memanfaatkan celah administrasi, jaringan kekuasaan, dan kelemahan institusi. Kejahatan mereka tidak menghasilkan darah di jalanan, tetapi dampaknya bisa jauh lebih besar terhadap masyarakat.
Dalam banyak kasus korupsi, yang dicuri bukan hanya uang negara. Yang ikut dicuri adalah kesempatan pembangunan, kualitas layanan publik, dan kepercayaan warga terhadap hukum. Karena itu, berita kejahatan kerah putih sering kali tampak membosankan di layar televisi, tetapi sebenarnya jauh lebih mahal biayanya bagi bangsa.
Namun kisah Eddy Tansil melangkah lebih jauh daripada Frank Abagnale. Ia tidak sekadar menipu sistem. Ia berhasil menghilang dari sistem. Di sinilah bayangan The Shawshank Redemption muncul. Film karya Frank Darabont itu berkisah tentang Andy Dufresne, seorang narapidana yang selama bertahun-tahun diam-diam menggali terowongan hingga akhirnya berhasil kabur dari penjara. Pelariannya menjadi salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah perfilman.
Tentu ada perbedaan mendasar. Andy adalah korban salah hukum yang mencari kebebasan. Eddy adalah terpidana yang melarikan diri dari hukuman. Tetapi keduanya sama-sama meninggalkan pertanyaan yang membuat publik terpana: bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?
Dalam film, pelarian Andy terasa heroik karena ia melawan ketidakadilan. Dalam kehidupan nyata, pelarian Eddy justru memperlihatkan rapuhnya institusi hukum. Ia tidak sedang membuktikan kebebasan individu, melainkan menunjukkan bahwa sistem dapat ditembus dari dalam. Karena itulah, jika Andy Dufresne menjadi simbol harapan, Eddy Tansil berubah menjadi simbol kegagalan.
Yang menarik, seiring berjalannya waktu, sosok Eddy Tansil perlahan bergeser dari manusia menjadi mitos. Banyak orang Indonesia yang mungkin tidak lagi ingat detail kasus Bapindo, tetapi tetap mengenal nama Eddy Tansil. Ia hadir sebagai lelucon, meme, dan metafora. Setiap kali ada buronan yang sulit ditangkap, nama Eddy Tansil sering kembali disebut.
Fenomena ini mengingatkan pada konsep yang pernah dibahas sejarawan Eric Hobsbawm tentang “bandit sosial”. Dalam banyak masyarakat, tokoh-tokoh pelarian sering berkembang menjadi legenda yang terpisah dari fakta sejarahnya. Bukan karena publik menyetujui tindakan mereka, melainkan karena kisah mereka dianggap terlalu luar biasa untuk dilupakan.
Eddy Tansil tentu bukan Robin Hood. Ia tidak merampok orang kaya untuk membantu orang miskin. Tetapi keberhasilannya menghilang selama tiga dekade membuat namanya memasuki wilayah yang sama, yakni wilayah mitos. Di situlah letak paradoksnya.
Negara berhasil menghukum banyak penjahat. Negara juga berhasil menangkap banyak buronan. Namun terhadap Eddy Tansil, negara seperti terjebak dalam sebuah cerita yang tidak pernah menemukan bab terakhirnya. Oleh karena itu kisahnya terus hidup. Bukan karena publik mengaguminya, melainkan karena publik belum memperoleh penutup yang memuaskan. Kita terbiasa dengan cerita yang memiliki akhir: pahlawan menang, penjahat tertangkap, keadilan ditegakkan. Tetapi Eddy Tansil menawarkan akhir cerita yang menggantung.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.
Belum ada komentar.