OPINI - Ada orang yang tampak keras bukan karena tidak membutuhkan kasih sayang, melainkan karena terlalu sering dikecewakan. Ada pula yang menjauh dari orang lain karena merasa dunia tidak menyediakan tempat baginya. Dua manusia semacam inilah yang dipertemukan dalam The Life Ahead (2020), film drama Italia garapan Edoardo Ponti yang dibintangi Sophia Loren dan Ibrahima Gueye. Di balik kisah sederhana tentang seorang perempuan lanjut usia dan bocah yang bermasalah, film ini menyimpan renungan tentang luka, penerimaan, dan kesempatan kedua.

Madame Rosa (Sophia Loren) adalah penyintas Holocaust yang kini merawat anak-anak dari perempuan pekerja seks. Usia dan pengalaman pahit membuatnya tegar, tetapi juga keras. Ia terbiasa bertahan hidup tanpa banyak berharap kepada orang lain. Sementara itu, Momo (Ibrahima Gueye), bocah imigran asal Senegal berusia 12 tahun, tumbuh di jalanan. Ia mencuri, terlibat dalam peredaran narkoba, dan sulit mempercayai orang dewasa.

Pertemuan mereka bermula dari pencurian. Momo merampas barang milik Rosa, tetapi peristiwa itu justru membuka jalan bagi keduanya untuk saling mengenal. Rosa kemudian menampung Momo. Hubungan mereka pada mulanya jauh dari harmonis. Momo sulit diatur, sedangkan Rosa bukan sosok nenek yang selalu berbicara lembut. Mereka bertengkar dan saling menguji kesabaran. Namun, perlahan, tumbuh perhatian di antara keduanya.

Kekuatan film ini terletak pada kesediaannya mengajak penonton memahami seseorang sebelum menjatuhkan penilaian. Momo memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Akan tetapi, kenakalannya tidak serta-merta menjelaskan seluruh dirinya. Di balik perilaku yang menyebalkan, ada anak yang kehilangan pegangan dan membutuhkan seseorang untuk dipercaya.

Kita sering tergesa-gesa memberi cap. Anak yang mencuri dianggap pencuri; remaja yang melawan dinilai tidak tahu diri; orang tua yang keras disangka tidak memberi perhatian. Padahal, perilaku yang tampak di permukaan bisa menyembunyikan cerita panjang tentang kehilangan, ketakutan, dan kesepian. Memahami latar belakang seseorang bukan berarti membenarkan kesalahannya. Justru dari pemahaman itulah pertolongan yang tepat dapat dimulai.

Di sini, The Life Ahead mengingatkan kita pada falsafah Jawa memayu hayuning bawana. Ikut menjaga keselamatan, ketenteraman, dan kebaikan kehidupan bersama. Nilai ini tidak berhenti sebagai ajaran luhur yang diucapkan dalam upacara atau dituliskan di dinding kantor. Ia memperoleh makna ketika seseorang bersedia mengurangi penderitaan orang lain, terutama mereka yang mudah terpinggirkan.

Rosa melakukannya dengan cara sederhana. Ia menyediakan tempat tinggal dan kesempatan bagi Momo untuk memperbaiki hidup. Ia tidak selalu berhasil, tetapi kehadirannya memberi anak itu sesuatu yang sebelumnya sulit ditemukan, rasa bahwa dirinya masih layak diperhatikan.

Menariknya, Rosa sendiri bukan manusia tanpa luka. Trauma masa lalunya sebagai penyintas Holocaust terus membayangi kehidupan. Ketika usia bertambah dan kondisinya memburuk, perempuan yang selama ini tampak kuat mulai membutuhkan pertolongan. Momo pun perlahan berganti peran. Anak yang semula menerima perhatian belajar merawat orang yang telah memberinya tempat dalam kehidupan.

Hubungan mereka menunjukkan bahwa kepedulian bukan jalan satu arah. Orang yang menolong tidak selalu lebih kuat, sebagaimana orang yang ditolong tidak selamanya bergantung. Dalam perjumpaan yang tulus, keduanya dapat saling menguatkan. Keluarga pun tidak selalu lahir dari hubungan darah. Terkadang, keluarga tumbuh dari kesediaan untuk saling menjaga.

Sebagai film, The Life Ahead memang terasa sentimental. Persoalan kemiskinan, imigrasi, dan keterasingan tidak seluruhnya digali secara mendalam. Namun, kekuatan akting Sophia Loren dan Ibrahima Gueye membuat hubungan kedua tokohnya terasa manusiawi. Film ini juga meninggalkan pertanyaan penting. Bagaimana nasib anak-anak seperti Momo jika tidak ada orang yang bersedia membuka pintu bagi mereka?

Pertanyaan itu membawa kita keluar dari layar menuju tanggung jawab sosial. Kebaikan individu sangat berarti, tetapi tidak boleh menggantikan kewajiban keluarga, masyarakat, dan negara untuk melindungi anak-anak rentan. Dalam kehidupan birokrasi, kepedulian semestinya hadir bukan hanya dalam dokumen program dan laporan kegiatan, melainkan juga dalam kemampuan melihat manusia di balik data, memahami kebutuhan di balik pengaduan, dan memastikan bantuan menjangkau mereka yang membutuhkan.

Judul The Life Ahead mengandung ironi yang menyentuh. Masa depan Momo masih panjang, sedangkan waktu Rosa semakin terbatas. Namun, keduanya menemukan alasan untuk terus menjalani hari. Rosa membantu Momo melihat kemungkinan hidup yang lebih baik. Momo memberinya perasaan bahwa dirinya masih berarti.

Kita mungkin tidak sanggup menghapus luka seseorang atau menjamin masa depannya akan selalu baik. Namun, kita dapat membuat perjalanan itu tidak terlalu sepi. Barangkali, memayu hayuning bawana bermula dari tindakan sesederhana itu, dengan tidak membiarkan sesama kehilangan harapan ketika kita masih bisa menyalakannya.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM.