OPINI - Di Kota Ngawi, dua sungai besar—Bengawan Solo dan Sungai Madiun—bertemu sebelum mengalir menuju laut. Di titik pertemuan itulah berdiri sebuah bangunan tua yang selama puluhan tahun lebih dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendhem. Nama resminya adalah Benteng Van den Bosch, diambil dari Johannes Graaf van den Bosch, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikenang sebagai penggagas sistem tanam paksa (cultuurstelsel). Ironisnya, nama seorang perancang eksploitasi ekonomi terbesar di Jawa justru diabadikan pada sebuah bangunan yang kini menjadi objek wisata.
Benteng ini lebih dari sekadar peninggalan arsitektur kolonial. Ia adalah saksi bisu yang merekam bagaimana kekuasaan bekerja. Bagaimana ia menguasai ruang, mengendalikan manusia, dan mengamankan kepentingan ekonomi.
Benteng Van den Bosch dibangun antara tahun 1839 hingga 1845, tidak lama setelah Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro berakhir. Perang itu menguras kas Belanda sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya kekuasaan kolonial ketika menghadapi perlawanan rakyat. Karena itu, pemerintah kolonial tidak hanya membangun benteng sebagai instalasi militer, tetapi juga sebagai simbol bahwa pemberontakan tidak boleh terulang.
Pilihan lokasi di Ngawi bukan kebetulan. Pertemuan Bengawan Solo dan Sungai Madiun merupakan jalur transportasi air yang sangat strategis pada abad ke-19. Dari tempat ini, Belanda dapat mengawasi mobilitas manusia, distribusi hasil bumi, hingga aktivitas perdagangan di pedalaman Jawa.
Arsitekturnya pun menunjukkan kecerdasan sekaligus kecemasan kolonial. Sebagian besar bangunan dibuat lebih rendah dari permukaan tanah sehingga dari kejauhan tampak seolah terpendam. Karena itulah masyarakat kemudian menyebutnya Benteng Pendhem. Di sekelilingnya terdapat tanggul tanah, parit, dan sistem drainase yang mengalirkan air ke dua sungai. Meski berada di kawasan yang relatif rendah, benteng ini tidak pernah tergenang. Perpaduan teknik bangunan Eropa dengan adaptasi terhadap iklim tropis menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya datang membawa senjata, tetapi juga pengetahuan teknik yang diarahkan untuk memperkuat dominasinya.
Namun, fungsi benteng ini tidak berhenti pada urusan pertahanan. Benteng Van den Bosch juga menjadi simpul pengawasan sistem tanam paksa. Van den Bosch memang dikenal sebagai arsitek Cultuurstelsel, kebijakan yang memaksa petani Jawa menanami sebagian lahannya dengan komoditas ekspor seperti tebu dan kopi demi memenuhi kebutuhan kas Kerajaan Belanda.
Di wilayah Ngawi dan sekitarnya, industri gula berkembang pesat. Keberadaan sejumlah pabrik gula menunjukkan bagaimana benteng ini menjadi bagian dari mesin ekonomi kolonial. Tentara menjaga keamanan, birokrat mengawasi produksi, sementara rakyat menjadi tenaga utama yang menanggung beban sistem tersebut. Seperti diingatkan sejarawan Jan Breman, kolonialisme bukan hanya soal pendudukan wilayah, melainkan pengorganisasian tenaga kerja dan sumber daya untuk kepentingan metropolitan.
Yang menarik, benteng ini juga menyimpan kisah perlawanan. Di salah satu sudut kompleks terdapat makam Kiai Haji Muhammad Nursalim, pengikut Pangeran Diponegoro yang pernah ditahan di sana. Kehadiran makam tersebut menghadirkan kontras yang kuat. Di dalam benteng yang dibangun untuk menegakkan kekuasaan kolonial, justru bersemayam seorang pejuang yang melawannya. Sejarah ternyata tidak sepenuhnya dimiliki oleh pihak yang menang.
Perjalanan benteng ini kemudian terus berubah mengikuti pergantian rezim. Pada tahun 1926, bangunan ini difungsikan sebagai Lands Opvoeding Gesticht, lembaga pendidikan bagi anak-anak yang dianggap bermasalah, tetapi praktiknya kerap disertai hukuman fisik. Ketika Jepang datang pada tahun 1942, Benteng Pendhem berubah menjadi kamp interniran bagi orang-orang Eropa, Indo-Eropa, dan kelompok yang dianggap membahayakan pemerintahan militer Jepang. Setelah Indonesia merdeka, benteng ini menjadi markas Tentara Keamanan Rakyat, lalu digunakan oleh Batalyon Artileri Medan.
Kini, setelah direvitalisasi dan ditetapkan sebagai cagar budaya, Benteng Pendhem menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Banyak orang datang untuk berfoto di lorong-lorong bata merah, menikmati halaman berumput hijau, atau sekadar mengagumi bangunan tuanya. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, akan lebih bermakna jika wisata sejarah tidak berhenti pada keindahan visual.
Benteng Van den Bosch seharusnya dibaca sebagai ruang refleksi. Di sana kita belajar bahwa kekuasaan selalu membutuhkan infrastruktur, seperti benteng, jalan, birokrasi, hingga narasi yang membenarkan keberadaannya. Kita juga belajar bahwa pembangunan yang tampak megah belum tentu dibangun untuk kesejahteraan rakyat. Dalam sejarah kolonial, banyak infrastruktur lahir bukan demi kepentingan masyarakat, melainkan untuk memperlancar eksploitasi.
Karena itu, setiap kali melangkah di lorong-lorong Benteng Pendhem, sesungguhnya kita sedang berjalan di atas lapisan sejarah yang kompleks. Tentang perang, penindasan, perlawanan, dan perubahan zaman. Bangunan ini mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah, tetapi juga kemampuan membaca bagaimana kekuasaan bekerja agar kesalahan masa lalu tidak menemukan bentuk barunya pada masa kini.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo.
Belum ada komentar.