Laskar Kere dalam Mozaik Kemerdekaan

SUARA OPINI - Mereka masih pelajar. Usianya belum jauh dari masa kanak-kanak. Seragam sekolah mungkin belum benar-benar lepas dari tubuh ketika senapan sudah berada di tangan. Mereka tidak memiliki perlengkapan perang yang memadai, tidak dibekali persenjataan modern, dan sebagian bahkan harus berhadapan dengan pasukan yang jauh lebih terlatih. Tetapi mereka memilih maju. Mereka menamakan diri dengan nama yang terdengar seperti olok-olok, yakni Laskar Kere.

Kata “kere” dalam bahasa Jawa berarti miskin atau melarat. Namun bagi para pelajar pejuang Solo pada masa awal Revolusi, kata itu justru menjadi sumber kebanggaan. Mereka miskin perlengkapan, tetapi tidak miskin keberanian.

Kisah tersebut ditulis Hendri F. Isnaeni dalam artikel “Semangat Laskar Kere”, yang dimuat Historia pada 21 Maret 2014. Cerita Laskar Kere mengingatkan kita bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia bukan hanya dilakukan oleh tentara yang sudah terlatih. Para pelajar pun turun ke medan perang.

Mereka berasal dari berbagai sekolah: Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Tinggi, Sekolah Guru Atas, hingga Sekolah Teknik. Setelah Proklamasi, mereka bergabung dengan berbagai laskar dan ikut bertempur menghadapi pasukan Inggris dan Gurkha di sejumlah front antara Solo dan Semarang. Di antara mereka terdapat Laskar Kere yang dipimpin Achmadi Hadisoemarto.

Salah satu kisah mereka terjadi di sekitar Sungai Tuntang. Setelah pertempuran di Susukan, pasukan pelajar tersebut bergerak sebagai penyelidik dengan perlengkapan sederhana. Ketika terdesak, mereka mundur menuju jembatan. Masalahnya, jembatan itu telah dijaga Tentara Keamanan Rakyat. Seragam mereka yang menyerupai seragam tentara Jepang membuat pasukan TKR mengira mereka adalah musuh. Tembakan senapan mesin pun diarahkan kepada Laskar Kere.

Dalam keadaan panik, para pelajar itu berlindung di air dan berenang menyeberangi sungai. Untungnya mereka berhasil selamat. Setelah sampai di seberang, mereka ditanya oleh tentara TKR, “Saudara ini laskar apa?”

Jawabannya sederhana tetapi penuh kebanggaan, “Laskar Kere, Pak.”

Achmadi kemudian menjelaskan identitas mereka dengan kalimat yang pantas dikenang, “Kita ‘kan Laskar Kere, Pak, melarat, tetapi tidak kalah semangat.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di dalamnya terdapat salah satu inti dari sejarah Revolusi Indonesia. Kemerdekaan tidak diperjuangkan oleh orang-orang yang serba memiliki. Banyak pejuang justru berangkat dengan keterbatasan. Senjata minim, logistik terbatas, organisasi belum mapan, dan kemampuan militer tidak sebanding dengan lawan. Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa diukur dengan jumlah senjata, yaitu keyakinan bahwa kemerdekaan harus dipertahankan.

Laskar Kere akhirnya terus bertempur. Setelah pertempuran di Langensari, pasukan Inggris mundur ke Jatingaleh. Para pelajar itu bergerak hingga Pundakpayung sebelum akhirnya ditarik kembali ke Solo. Keputusan untuk menarik mereka juga menunjukkan bahwa para pelajar tidak dimaksudkan menjadi tentara selamanya. Presiden Soekarno menganjurkan agar para pelajar pejuang kembali ke bangku sekolah, sambil tetap menjalankan kewajiban mereka terhadap perjuangan.

Ada kebijaksanaan di balik keputusan tersebut. Perang membutuhkan pejuang, tetapi negara merdeka juga membutuhkan orang-orang terdidik. Pelajar yang hari itu memegang senapan harus kembali memegang buku karena perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti ketika perang berakhir.

Achmadi sendiri kemudian terus menempuh perjalanan panjang. Lahir pada 5 Juni 1927 di Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur, ia memimpin Laskar Kere ketika berusia baru 18 tahun. Pada tahun 1948, Presiden Soekarno memberinya pangkat mayor dan mengangkatnya sebagai Komandan Batalion 2 Kesatuan Reserve Umum.

Namanya kemudian terkait erat dengan Serangan Umum Empat Hari di Solo pada 7 hingga 10 Agustus 1949. Setelah itu, ia menempati sejumlah jabatan militer dan pemerintahan, termasuk Menteri Penerangan pada tahun 1966. Ironisnya, ia kemudian mengalami penahanan selama sekitar sepuluh tahun pada masa Orde Baru.

Sejarah memang tidak selalu memberikan akhir yang sederhana kepada para pejuangnya. Karena itu, memperingati kemerdekaan tidak cukup hanya mengingat nama-nama besar. Kita juga perlu mengingat para pelajar yang mungkin tidak pernah membayangkan dirinya akan masuk buku sejarah. Laskar Kere mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari keberanian untuk bertindak meski serba kekurangan.

Hari ini kita hidup dalam alam kemerdekaan Indonesia yang jauh berbeda. Anak-anak muda tidak lagi dituntut berenang menyeberangi sungai untuk menghindari peluru. Tetapi semangat mereka tetap relevan. Kemiskinan, keterbatasan fasilitas, atau ketiadaan kekuasaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan keberanian memperbaiki keadaan.

Ditulis oleh Wurianto Saksomo